Layanan COD atau pesan 3-25 hari kirim [ Situasional ]
Call /SMS / WA ke H. Solichin Toip +6281327018755 Pin BB
: D7E7B816

اللهم صل وسلم على سيدنا ومولنا محمد الذي أنزلت عليه.رب أنزلني منزلا مباركا وأنت خير المنزلين

8.07.2010

Sejarah Rebana Indonesia di Desa Kaliwadas-Bumiayu

Irama Rebana Syrakal dimainkan untuk mengiri Shalawatan dan hiburan religius
Istilah Rebana
     Rebana dalam bahasa Indonesia; Genjring, Terbang atau Kencer dalam bahasa Jawa; kamus bahasa Inggris menyebutnya Tambourine; istilah orang Kalimantan Gendang, adalah alat musik tradisional yang dimainkan dengan iringan lagu bernuansa Arabi
atau Islami.
     Dalam istilah orang Melayu rebana adalah alat musik tradisional yang dimainkan untuk mengiringi lagu-lagu budaya [Rebana: wikipedia.org].
     Alat musik Rebana dibuat dari papan kayu pilihan, dibulatkan dan dilobangi dengan menggunakan mesin bubut bertenaga listrik dan didesain secara khusus agar menghasilkan suara yang khas. Pada sisi sebelahnya dipasang kulit kambing yang sudah disamak putih. Dengan keterampilan, keahlian serta kesabaran dalam penggarapannya maka akan menghasilkan salah satu karya seni Islami dalam bentuk Rebana berkualitas. 
     Instrumen rebana yang bagus adalah yang bersuara jernih, tidak fals, disesuaikan dengan kebutuhan aliran musik atau versi masing-masing serta dengan penampilan yang esklusif. Oleh karena itu bahan dasar, khususnya kayu dan kulit, yang dibutuhkan haruslah merupakan kayu pilihan. Tidak semua jenis kayu bisa dibuat menjadi kerajinan rebana. Hanya kayu tertentu saja. Demikian halnya dengan kulit yang nantinya akan digunakan sebagai media tepuknya, haruslah menggunakan kulit pilihan dan jenis hewan tertentu.

Eksistensi Rebana
     Eksistensi rebana Kaliwadas-Bumiayu-Brebes-Jawa Tengah bermula dari keuletan bapak Toip [ayah kami] dan paman beliau bapak Madali [almarhum] dalam membuat 'band tepuk' ini pada era 1940-an. Saat itu pembuatan rebana bisa dibilang masih terbatas dan hanya sebagai pengisi waktu luang, disela-sela kesibukan mereka bertani dan dalam gejolak politik penjajahan Jepang dan Belanda. Ketika mulai dipasarkan pada era 1950-an maka pembeli dan penikmat suaranya yang khas pun masih sebatas orang-orang berusia tua  dan di daerah terdekat saja. Seperti wilayah Brebes sendiri, Banyumas, Tegal dan Cirebon. Jenisnya saat itu hanya ada dua macam, yakni Rebana Syrakal  dengan diameter 36-39 cm dan Jawa Klasik yang terbuat dari Glugu atau kayu Kelapa. 
     Pembuatan bodi atau kluwung rebana dan Jawa saat itu masih menggunakan cara manual, yaitu dengan menggunakan Tatah [pisau khusus] untuk mendesain dan melobangi. Itupun masih bekerja sama dengan seseorang yang berasal dari daerah Jatilawang, Banyumas. Baru pada era 70-an orang tua kami mulai merancang pembuatan bodi Rebana dengan menggunakan mesin bubut_meski masih dengan menggunakan tenaga kaki [digenjot] , agar as yang telah dipasangi bulatan kayu Rebana bisa berputar.
     Tahun 1970-an, seorang pengusaha dari Jakarta keturunan Tasikmalaya bernama H. Sulaeman [almarhum] datang berkunjung. Beliau menyaksikan keuletan dan kerajinan ayah kami yang notabene pembantu pak Madali dalam membuat Rebana, sehingga kemudian mengajaknya bekerja sama dengan membuka usaha sendiri dan memberinya modal gratis !
     Dari kepiawaian H. Sulaiman lewat " Toko Musik Setia " inilah akhirnya lambat laun rebana Kaliwadas rebana Bumiayu yang notabene produk Toip mulai dikenal luas, sehingga lahirlah Sentra Rebana Kaliwadas. Disusul kemudian dua toko di sebelahnya bersiap menampung alat musik yang lebih dikhususkan sebagai pengiring shalawat ini.
     Puncak kejayaan rebana berlangsung pada tahun 1999 hingga sekarang [Saat itu home industry " Suara Tunggal Bahana " baru satu tahun berjalan]. Dan kini jenis produksinya pun lebih banyak dan variatif. Ada Rebana Hadrah, Qasidah, Marawis, Bass Alhabsyi, Bass versi Habib Syech, Rebana MAPSI, dan lain-lain. Jenis alat musik lain punmulai menjadi garapan kami selanjutnya, seperti : aneka Gendang, Bedug, Drum, paket Band, Marching Band, dan lain-lain. 
     Sekarang rebana Kaliwadas seolah sudah menjadi simbol Kaliwadas atau kota Bumiayu dan sudah terkenal di seluruh wilayah Indonesia dan mancanegara. Jumlah pengrajinnya pun sudah puluhan. Mereka memiliki kekurangan kelebihan masing-masing serta dengan pangsa pasar yang berbeda pula.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Ahlan bikum...
Terima kasih Anda berkenan mengomentari produk dan artikel kami. Hanya komentar yang berhubungan dengan artikel atau isi situs ini yang kami publikasikan. KOMENTAR AKAN DIHAPUS jika mengandung iklan terselubung, spam, fitnah, permusuhan, sarkastisme, sara, rasis, link nudisme, bisnis penggandaan uang dan sejenisnya.
Salam ukhuwwah !