11.17.2011

Siapa Bilang Seni Rebana Bid'ah dan Tidak Ada Dalilnya ?

kitab alBarzanji.
Judul di atas sengaja kami tulis dalam bentuk pertanyaan, dengan harapan ada umpan balik dari teman-teman semua. Sehingga kemudian kian menambah wawasan dan 'dalil baru' yang pada akhirnya akan membawa manfaat bagi pembaca sekalian.
Dan ide posting ini muncul dari hasil ngalap barokah  kami ke shahibul-ma'had KH. Aminuddin Masyhudi, pengasuh Pondok Pesantren Modern Darunnajat, Tegal Munding, Pruwatan, Bumiayu, Jawa Tengah_dengan harapan akan membawa manfaat bagi kami dan teman-teman. Amin...
" Jika kamu mendapatkan pesanan dari rekanan bisnis namun dia kemudian menjualnya dengan membohongi pembeli, maka janganlah kamu ikut-ikutan mendukung kebohongannya. Mantapkan niat kamu membuat Rebana dan menjualnya dalam rangka niat, ittiba atau mengikuti sunnah Rasulullah SAW yang notabene di dalamnya dibacakan Shalawat Nabi SAW.  "             
Kira-kira demikian maksud nasehat beliau menanggapi   cerita  kami sebelumnya. Kemudian beliau mengeluarkan sebuah kumpulan kitab karangan Hadratus-syaeh KH. Muhammad Hasyim Asy'ari yang berisi 19 kitab. Salah satu di dalamnya tertera judul kitab Tanbihaatu-l-Waajibaat, di halaman 16 tertulis hadist Rasulullah SAW ;
(فى الأصح)  لخبر الترمذى وابن حبــان انـه صلى اللـه عليـه وسلـم لمـا رجـع الى المـديـنة من بعـض مغـازيـة قـالت لـه جـاريـة  سـوداء اني نـذرت ان ردك اللـه سـالمــا أن اضـرب بيـن يـديـك بالدف فقـال لهـا ان كـنت نذرت فأوفي بنـذرك وهذا يشهـد  لبحـث الـبلقـينى أن ضـربـه لنحـوقـدوم عـالـم أو سلطـان لاخلاف فيـه..... 
" Diceritakan dalam Hadist sohih Imam Turmudzi ra dan Ibnu Hibban ra, bahwa sesungguhnya ketika Rasulullah SAW kembali ke kota Madinah dari salah satu peperangan dengan kaum kafir ( perang Uhud ) seorang budak perempuan berkulit hitam datang menjumpai beliau dan berkata ;

" Ya Rasulallah sesungguhnya hamba telah bernadzar ( bersumpah ) bahwa jika Allah mengembalikan hamba dari peperangan ini ( Uhud ) dengan selamat maka hamba akan memukul Rebana di hadapan Tuan ".

Maka Rasulullah bersabda kepadanya ; 
" Jika kamu telah bernadzar demikian maka laksanakanlah nadzarmu. Sesungguhnya memukul Rebana untuk menghormati kedatangan seorang alim atau pemerintah itu tidak ada pertentangan di dalamnya / bukan khilafiyah....."
Intinya peranan niat di sini amat penting, karena jika niat kita membuat, membeli, memukul atau bahkan hanya menyaksikan parade Rebana namun dalam rangka ittiba kepada sunnah Rasulullah maka insya Allah kita akan kecipratan berkahnya, amin... Dan Hadits di atas sudah menjadi pegangan kita bahwa seni Rebana bukan bid'ah dan diperkenankan oleh Rasulullah SAW untuk melaksanakannya. Wallaahu a'lam.
Sumber : Kitab at-Tanbihaatu-l-Waajibaat  Hal : 16
Kumpulan kitab karya :
(Pendiri Pondok Pesantren Tebu Ireng dan Jam'iyyah NU) 
Baca juga pos lainnya di bawah...

0 komentar:

Poskan Komentar

Ahlan bikum...
Terima kasih Anda berkenan mengomentari produk dan artikel kami. Hanya komentar yang berhubungan dengan artikel atau isi situs ini yang kami publikasikan. KOMENTAR AKAN DIHAPUS jika mengandung iklan terselubung, spam, fitnah, permusuhan, sarkastisme, sara, rasis, link nudisme, bisnis penggandaan uang dan sejenisnya.
Salam ukhuwwah !