Apresiasi Trans7 "Laptop Si Unyil " 2010
Layanan COD atau pesan 3-25 hari kirim [ Situasional ]

Call /SMS / WA ke H. Solichin Toip +6281327018755 Pin BB
: D7E7B816

اللهم صل وسلم على سيدنا ومولنا محمد الذي أنزلت عليه.رب أنزلني منزلا مباركا وأنت خير المنزلين

1.27.2012

Semua Mengaku Sentral Rebana

     Industri Rebana di desa Kaliwadas, kecamatan Bumiayu, kabupaten Brebes, Jawa Tengah, dimulai pada era 70-an atas jasa seorang pengusaha dari Tasikmalaya yang mengenalkan alat musik pukul ini ke luar daerah dengan mendirikan Toko Rebana di Pasar Ikan, Jakarta. Haji Sulaiman, nama pengusaha itu  ( almarhum ) bekerja sama dengan seorang pengrajin bernama bapak Toip (ayah  Solichin). Sebelumnya usaha rumahan ini mengalami perkembangan yang kurang memuaskan dikarenakan orang lebih memilih alat musik modern. Musik Rebana dianggap kuno dan kampungan, begitu beberapa pandangan menanggapi kemunculan alat musik pengiring Shalawat Nabi ini.
     Bahkan pada tahun 1980-an musik rebana di ambang kepunahan, karena peminatnya yang tidak berkembang. Tidak ada regenerasi. Baru pada tahun 1990 -an jenis musik yang notabene pernah dikenalkan oleh kaum Anshar Madinah ketika menyambut kaum Muhajirin Mekkah pimpinan Rasulullah SAW ini mulai menggeliat. Namun sayang, tahun 1997 krisis moneter menerpa negeri Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim  ini. Orang lebih memilih membelanjakan uangnya untuk membeli beras atau  bahan makanan daripada kesenangan ( hobbi ) bermain rebana yang tidak mengenyangkan, kira-kira demikian  persepsi  mayoritas penduduk muslim Indonesia, ketika itu. Musim paceklik alat musik rebana berlangsung hingga 2 tahun. Memprihatinkan !
      Tahun keemasan alat musik rebana dimulai lagi dan berlangsung  pada tahun 1999 di era presiden Abdurrakhman Wahid ( Gus Dur ) hingga sekarang ! Saat itu peminat rebana mulai meluas dan menjadi gengsi, terutama sekolah-sekolah_di samping Marching Band, sebagai kegitan ekstrakulikuler dan sarana promosi  untuk menjaring murid baru sebanyak mungkin. 
      Kini, pengrajin rebana telah mendekati angka seratus orang. Namun yang asli pengrajin sebenarnya hanya belasan orang. Kebanyakan adalah penjual atau pemodal. Dengan bermodal dana dan tempat ( toko ) di pinggir jalan mereka memasang papan nama 'Sentra Rebana Kaliwadas, Sentra Rebana Bumiayu, Sentral Industri Rebana. Ada lagi sentra Marching Band, Sentra Marawis,' dan lain-lain.

Baca juga pos lainnya di bawah...
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Ahlan bikum...
Terima kasih Anda berkenan mengomentari produk dan artikel kami. Hanya komentar yang berhubungan dengan artikel atau isi situs ini yang kami publikasikan. KOMENTAR AKAN DIHAPUS jika mengandung iklan terselubung, spam, fitnah, permusuhan, sarkastisme, sara, rasis, link nudisme, bisnis penggandaan uang dan sejenisnya.
Salam ukhuwwah !