Layanan COD atau pesan 3-25 hari kirim [ Situasional ]
Call /SMS / WA ke H. Solichin Toip +6281327018755 Pin BB
: D7E7B816

اللهم صل وسلم على سيدنا ومولنا محمد الذي أنزلت عليه.رب أنزلني منزلا مباركا وأنت خير المنزلين

10.09.2012

Jurus Barakah Kyai Bagian V

Deskripsi Rebana
     Rebana, Genjring, Terbang, Kencer, Duffuf atau yang dalam kosakata bahasa Inggris disebut Tambourine adalah alat musik tepuk, pukul, perkusis, dan
 
Islamis. Rebana adalah termasuk termasuk jenis alat musik dari kategori
membranophoni . Terbuat dari papan kayu pilihan yang dibulatkan dan dilobangi dengan menggunakan mesin bubut bertenaga listrik. Kemudian didesain secara khusus sebagai salah satu karya seni.
     Sementara pada sisi lobang sebelahnya dipasang kulit kambing yang sudah disamak putih, sedangkan lobang yang lain digunakan untuk pegangan tangan. Dengan keterampilan, keahlian, ketelitian serta kesabaran dalam penggarapannya, maka akan terbentuklah karya seni Islam yang disebut Rebana. Dan jika dipukul, akan keluarlah nada suaranya nan khas.
     Instrumen rebana yang bagus adalah yang bersuara jernih, tidak fals, dan  berpenampilan kilap serta ekslusif. Karena rebana termasuk salah satu jenis seni kerajinan, seperti halnya kerajinan seni lainnya, yang semestinya dibuat secara teliti, halus, ekslusif dan dengan jiwa seni pula. Di samping juga agar pemakainya merasa pede seperti halnya ketika memakai alat musik moderen yang penampilannya selalu update.

Sejarah Rebana di Kaliwadas
     Eksistensi rebana Kaliwadas-rebana Bumiayu, Jawa Tengah, bermula dari keuletan bapak Madali ( alm. ) dan bapak Toip ( ayah kami ) dalam membuat alat musik Islami ini pada era 1940 sampai dengan 1950-an. Saat itu pembuatan rebana boleh dibilang masih terbatas dan hanya sebagai pengisi waktu luang, disela-sela kesibukan mereka bertani. Pembeli dan penikmat suaranya yang khas pun masih sebatas orang-orang berusia tua  dan di daerah terdekat saja. Jenisnya saat itu hanya ada dua macam, yakni Rebana Syrakal ( Diba ) dengan diameter 36-39 cm dan Jawa Klasik yang konon warisan kreasi Sunan Kalijaga, yang terbuat dari Glugu atau kayu Kelapa.  
     Pembuatan badan Rebana ( kluwung ) dan Genjring Jawa saat itu masih menggunakan cara manual dan sangat tradisional, yaitu dengan menggunakan Tatah ( pisau khusus ) untuk mendesain dan melobanginya. Itu pun masih bekerja sama dengan seseorang yang berasal dari daerah Jatilawang, Banyumas. Baru pada era 70-an orang tua kami mulai merancang pembuatan bodi Rebana dengan menggunakan mesin bubut bertenaga kaki alias digenjot. Seiring perubahan zaman di tahun 1990-an mesin bubut pun beralih menggunakan mesin bertenaga listrik
     Untuk pemasaran rebana, pada zaman itu, masih menggunakan cara tradisional pula. Yakni mengedarkannya dengan cara dikelilingkan dari kampung ke kampung, dari pintu ke pintu oleh para bakul ( marketing ) di wilayah Jawa Tengah saja. Terutama daerah Brebes, Tegal, Pekalongan dan Banyumas. Juga sebagian kecil wilayah Cirebon, Jawa Barat.

Sejarah Rebana Kaliwadas di Jakarta
     Lambat laun seni kerajinan rebana Kaliwadas mulai bergaung jauh ke mana-mana. Sehingga seorang pengusaha dari Tasikmalaya H. Sulaeman ( alm. ) datang berkunjung pada tahun 1970-an. Beliau adalah pemilik toko perhiasan atau pernik-pernik dari laut  di depan musium Bhahari jalan Pasar Ikan Jakarta. Begitu menyaksikan keuletan dan kerajinan ayah kami yang notabene pembantu bapak Madali dalam membuat rebana, maka kemudian beliau mengajaknya bekerja sama dengan membuka usaha sendiri, memberikan modal gratis. Beliau kemudian memasarkan produk rebana Toip lewat tokonya di jalan menuju makam keramat Luar Batang Al-Habib Husein bin Abu Bakar Al Aydrus itu.  Kelak toko H. Sulaiman diberi nama Toko Setia.
     Nah, dari Toko Rebana Setia inilah akhirnya Rebana Kaliwadas-Bumiayu yang notabene asli produk Toip, mulai dikenal luas. Sehingga lahirlah Sentra Rebana Kaliwadas produk Toip di Jakarta. Dan, rupanya antusiasme masyarakat Islam Jakarta khususnya pada seni rebana begitu besar, sehingga dua pengusaha lain di pasar Ikan kemudian ikut-ikutan memasarkan  alat musik yang lebih dikhususkan sebagai pengiring shalawat ini. Bahkan toko musik di wilayah Jakarta lainnya serta luar Jawa juga mengambilnya dari sini.
     Sekarang tiga toko di jalan Pasar Ikan Penjaringan, Jakarta Utara itu pengelolaannya sudah pada generasi ke II masing-masing. Produk Toip pun kini pengelolaannya sudah diberikan pada anak-anaknya dengan membawa merek masing-masing, tanpa menghilangkan nama Toip di belakangnya.
     Selain Rebana Syrakal dan Jawa Klasik, alat musik yang diproduksi oleh keluarga Toip sudah banyak dan beragam, antara lain : Rebana Hadrah, versi Habib Syech, Salafudin ( Pekalongan ), Variasi atau Mapsi ( Mata pelajaran dan seni Islam ), Diba dengan berbagai versi, Bass, Jidur, Keprak Tam, Qasidah ( Lasqi ), Samrah, Hajir Marawis, aneka Gendang, Drum band, Marching Band, bahkan Bedug mesjid, Musholla dan Mimbar pun telah kami produksi sendiri.

Market Rebana Solichin Toip
     Puncak kejayaan rebana berlangsung pada era presiden KH. Aburrakhman Wahid ( Gusdur ) pada tahun 1999 hingga sekarang. Saat itu saya baru satu tahun mendirikan usaha sendiri dengan membentuk badan usaha  " Suara Tunggal Bahana "  yang baru di daftarkan di Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Kabupaten Brebes pada tahun 2010, sebagai sebuah perusahaan perorangan.
     Berbeda pada awal-awal kami masih membawa nama Toip yang langsung kami kelilingkan sendiri hingga daerah kuningan, Jawa Barat, sekarang market kami sudah jauh lebih baik, dengan mengajak kerja sama toko musik-toko musik lain ( selain di daerah Jakarta ), Koperasi Pesantren, para pelatih Rebana dan Drum band, serta individu-individu dari berbagai kalangan di seluruh wilayah Indonesia hingga Korea Selatan. Selain yang memesan lewat jaringan kami, lebih banyak para pembeli alat musik produk Solichin Toip yang datang langsung ke rumah ( tempat usaha ) atau memesannya via situs http://www.solichin-toip.com dan jejaring sosial Facebook.

Apresiasi Televisi Nasional Trans7 dan Televisi Lokal RCTV Cirebon
    Produk Suara Tunggal Bahana dengan label Solichin Toip alhamdulillah telah dikenal luas dan diakui kualitasnya. Di tengah persaingan pengrajin lain di luar  label Toip yang jumlahnya sudah puluhan orang dan dengan harga yang lebih murah ( baca : murahan, Red. ), kami tetap bertahan dengan Kualitas, Kuantitas, Harga dan Layanan berbeda. Sehingga televisi nasional Trans7 berkenan memilih dan mengangkat profil kami dalam acara Laptop Si Unyil pada 21 April 2010 yang lalu. Dan pada Ramadhan 1431 H. yang lalu juga televisi lokal RCTV Cirebon  berkenan  bekerja sama dengan kami dalam mengadakan lomba Kontes Genjring Ramadhan 2.      
    Kini, pula, karena terkenal dengan kualitasnya dan banyak dicari pecinta rebana dan pecinta sholawat, maka tidak sedikit beredar produk Solichin Toip aspal alias asli tapi palsu. Bahkan tak sedikit oknum-oknum yang mengklaim sebagai bapak Toip, Solichin Toip atau saudara-saudara kami yang lain untuk meyakinkan calon pembelinya !
Bersambung ke Jurus Barakah Kyai Bag. VI,
Atau baca kembali,
Jurus Barakah Kyai Bag. I
Jurus Barakah Kyai Bag. II
Jurus Barakah Kyai Bag. III
Jurus Barakah Kyai Bag. IV
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Ahlan bikum...
Terima kasih Anda berkenan mengomentari produk dan artikel kami. Hanya komentar yang berhubungan dengan artikel atau isi situs ini yang kami publikasikan. KOMENTAR AKAN DIHAPUS jika mengandung iklan terselubung, spam, fitnah, permusuhan, sarkastisme, sara, rasis, link nudisme, bisnis penggandaan uang dan sejenisnya.
Salam ukhuwwah !